|
Tokoh Agama Jangan Mengisolasi Pengidap HIV/AIDS
http://www.glorianet.org/
GloriaNet - Tokoh agama jangan mengisolasi dan mengambil garis
hitam terhadap pengidap HIV/AIDS. Agama, melalui para tokoh agama,
bertanggung jawab mempersiapkan umatnya menghadapi HIV/AIDS. Untuk itu,
mereka perlu membuka dan menambah wawasan tentang HIV/AIDS.
Hal itu dikemukakan Direktur Internal Yayasan Rahima Syafiq Hasyim dan
Pendeta Emmy Sahertian dari Yayasan Palma dalam lokakarya HIV/AIDS untuk
wartawan yang diselenggarakan Aksi Stop AIDS/Family Health International
bekerja sama dengan Lembaga Pers Dr Soetomo di Jakarta, belum lama ini.
Menurut Hasyim, agama harus memberi alternatif (solusi) dalam mengatasi
HIV/AIDS. Karena itu, agama harus mengetahui dengan benar sejarah
munculnya HIV/AIDS menjadi penyakit yang berbahaya.
Dari pemahaman itu, bisa dilakukan hal-hal yang lebih jauh atau solusi.
Yang menjadi masalah, sering pemuka agama menganggap HIV/ AIDS sebagai
kutukan.
Pemahaman itu didasarkan pada anggapan bahwa HIV/AIDS sama dengan
penyakit Luth (kelompok homoseksual). Padahal, HIV/ AIDS tidak sama
dengan kaum Luth karena penyakit itu menyebar tidak hanya melalui
hubungan seksual, tetapi juga melalui alat kesehatan (jarum suntik) dan
cairan darah.
"Kebetulan sejarah HIV/ AIDS berasal dari pelaku homoseksual sehingga
dianggap penyakit kutukan, padahal tidak seperti itu. Pemuka agama perlu
banyak belajar tentang HIV/AIDS. Islam mempunyai peluang untuk
merevitalisasi ajaran agama dalam keperluan menanggulangi HIV/ AIDS,
yaitu mengembangkan teologi korban dan yang lemah," ujar Hasyim.
Meskipun demikian, Hasyim sebagai alumni Universitas Leiden Belanda
mengakui belum semua tokoh agama berwawasan HIV/ AIDS yang benar. Di
antara pemuka agama Islam pun ada perbedaan pandangan soal HIV/ AIDS
sehingga tidak mengherankan jika ada tanggapan yang berbeda terhadap
iklan kondom.
Dia mencontohkan Majelis Mujahidin yang menganggap iklan kondom sebagai
provokasi untuk seks bebas.
Masyarakat Penyembuh
Sementara itu, Sahertian menjelaskan berdasarkan pendataan orang
dengan HIV/AIDS (ODHA) yang dilakukan Yayasan Pelita Ilmu (YPI), tidak
ada agama yang bebas HIV/AIDS. Itu berarti ODHA berasal dari berbagai
agama. Atas dasar itu, dia menilai agama bertanggung jawab membentuk
masyarakat penyembuh karena pada dasarnya dunia "sakit".
Disebutkan, HIV/AIDS bukan semata-mata berkaitan dengan masalah berdosa
atau tidak berdosa. Beberapa ODHA yang didampinginya adalah orang yang
berperilaku sehat.
Seperti perawat di Papua yang terinfeksi HIV saat melakukan tugasnya.
Kalangan agama, katanya, harus mempunyai format etika agar umatnya (seseorang)
bertanggung jawab pada seluruh tubuhnya. Agama berperan membentuk
tingkah laku yang sehat.
Banyak kaum muda yang tidak memahami organ seksual karena jarang dibahas
dan dianggap tabu membicarakannya. Dalam menghadapi HIV/AIDS, sikap
semacam itu perlu dihilangkan. Itu tidak berarti agama menyetujui semua
tingkah laku. Atas dasar itu, perlu reinterpretasi iman Kristiani agar
tidak ada perbedaan mengenai pemahaman soal HIV/ AIDS.
"Dewan Gereja Sedunia telah mengubah konsep tradisional menjadi healing
community. Pendeta harus meninggalkan jubah untuk menghadapi para ODHA,"
katanya.
Dia mengatakan, etika Kristen tidak melarang kondom mencegah HIV/AIDS
karena kondom merupakan pilihan terbaik dari yang terburuk meskipun
dengan memakai kondom tidak berarti 100 persen bebas HIV/ AIDS.
Hal senada juga dikatakan Hasyim. Ajaran Islam menerima kondom untuk
mencegah HIV/AIDS. Tetapi, labelisasi kondom harus diubah, yaitu sebagai
alternatif terakhir setelah pencegahan yang utama, yaitu setia kepada
pasangan dan tidak berhubungan seks bebas. (GCM/SP)
Email:

|