Education + Advocacy = Change

Click a topic below for an index of articles:

New Material

Home

Depression

Help us Win the Fight!

Alternative Treatments

Financial or Socio-Economic Issues

Health Insurance

Help us Win the Fight

Hepatitis

HIV/AIDS

Institutional Issues

International Reports

Legal Concerns

Math Models or Methods to Predict Trends

Medical Issues

Our Sponsors

Occupational Concerns

Our Board

Projects

Religion and infectious diseases

State Governments

Stigma or Discrimination Issues

If you would like to submit an article to this website, email us your paper to info@heart-intl.net

 

~

any words all words
Results per page:

“The only thing necessary for these diseases to the triumph is for good people and governments to do nothing.”

 

Tokoh Agama Jangan Mengisolasi Pengidap HIV/AIDS 

http://www.glorianet.org/

GloriaNet - Tokoh agama jangan mengisolasi dan mengambil garis hitam terhadap pengidap HIV/AIDS. Agama, melalui para tokoh agama, bertanggung jawab mempersiapkan umatnya menghadapi HIV/AIDS. Untuk itu, mereka perlu membuka dan menambah wawasan tentang HIV/AIDS.

Hal itu dikemukakan Direktur Internal Yayasan Rahima Syafiq Hasyim dan Pendeta Emmy Sahertian dari Yayasan Palma dalam lokakarya HIV/AIDS untuk wartawan yang diselenggarakan Aksi Stop AIDS/Family Health International bekerja sama dengan Lembaga Pers Dr Soetomo di Jakarta, belum lama ini. 

Menurut Hasyim, agama harus memberi alternatif (solusi) dalam mengatasi HIV/AIDS. Karena itu, agama harus mengetahui dengan benar sejarah munculnya HIV/AIDS menjadi penyakit yang berbahaya. 

Dari pemahaman itu, bisa dilakukan hal-hal yang lebih jauh atau solusi. Yang menjadi masalah, sering pemuka agama menganggap HIV/ AIDS sebagai kutukan. 

Pemahaman itu didasarkan pada anggapan bahwa HIV/AIDS sama dengan penyakit Luth (kelompok homoseksual). Padahal, HIV/ AIDS tidak sama dengan kaum Luth karena penyakit itu menyebar tidak hanya melalui hubungan seksual, tetapi juga melalui alat kesehatan (jarum suntik) dan cairan darah. 
 

 


"Kebetulan sejarah HIV/ AIDS berasal dari pelaku homoseksual sehingga dianggap penyakit kutukan, padahal tidak seperti itu. Pemuka agama perlu banyak belajar tentang HIV/AIDS. Islam mempunyai peluang untuk merevitalisasi ajaran agama dalam keperluan menanggulangi HIV/ AIDS, yaitu mengembangkan teologi korban dan yang lemah," ujar Hasyim.

Meskipun demikian, Hasyim sebagai alumni Universitas Leiden Belanda mengakui belum semua tokoh agama berwawasan HIV/ AIDS yang benar. Di antara pemuka agama Islam pun ada perbedaan pandangan soal HIV/ AIDS sehingga tidak mengherankan jika ada tanggapan yang berbeda terhadap iklan kondom. 

Dia mencontohkan Majelis Mujahidin yang menganggap iklan kondom sebagai provokasi untuk seks bebas. 

Masyarakat Penyembuh
Sementara itu, Sahertian menjelaskan berdasarkan pendataan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang dilakukan Yayasan Pelita Ilmu (YPI), tidak ada agama yang bebas HIV/AIDS. Itu berarti ODHA berasal dari berbagai agama. Atas dasar itu, dia menilai agama bertanggung jawab membentuk masyarakat penyembuh karena pada dasarnya dunia "sakit".

Disebutkan, HIV/AIDS bukan semata-mata berkaitan dengan masalah berdosa atau tidak berdosa. Beberapa ODHA yang didampinginya adalah orang yang berperilaku sehat. 

Seperti perawat di Papua yang terinfeksi HIV saat melakukan tugasnya. Kalangan agama, katanya, harus mempunyai format etika agar umatnya (seseorang) bertanggung jawab pada seluruh tubuhnya. Agama berperan membentuk tingkah laku yang sehat.

 



Banyak kaum muda yang tidak memahami organ seksual karena jarang dibahas dan dianggap tabu membicarakannya. Dalam menghadapi HIV/AIDS, sikap semacam itu perlu dihilangkan. Itu tidak berarti agama menyetujui semua tingkah laku. Atas dasar itu, perlu reinterpretasi iman Kristiani agar tidak ada perbedaan mengenai pemahaman soal HIV/ AIDS.

"Dewan Gereja Sedunia telah mengubah konsep tradisional menjadi healing community. Pendeta harus meninggalkan jubah untuk menghadapi para ODHA," katanya.

Dia mengatakan, etika Kristen tidak melarang kondom mencegah HIV/AIDS karena kondom merupakan pilihan terbaik dari yang terburuk meskipun dengan memakai kondom tidak berarti 100 persen bebas HIV/ AIDS. 

Hal senada juga dikatakan Hasyim. Ajaran Islam menerima kondom untuk mencegah HIV/AIDS. Tetapi, labelisasi kondom harus diubah, yaitu sebagai alternatif terakhir setelah pencegahan yang utama, yaitu setia kepada pasangan dan tidak berhubungan seks bebas. (GCM/SP)

 

 

 

Email: